Selasa, 24 Desember 2013

Sorry, unsaid



Dalam kata yang kutuangkan, aku berharap mereka mampu mendengarkan kataku. Dalam setiap rangkaian yag kutuliskan, terselip kata yang tak mampu terucapkan.

***

Dalam kebisingan di tempat umum, dalam kebisingan istanaku. Tapi, aku tak bisa merasakan indahnya suaraku. Ku beranjak dari ranjang putih tempat tidur putri Jasmine, kududuki ranjangnya yang tiba-tiba bersuara reot kayu ranjang dan tanpa memikirkn apapun. Barulah kakiku mengajak pergi, tapi tak jelas ingin pergi kemana? Bangku merah jambu yang seolah-olah ingin diucapkan "selamat pagi" dan mengajakku mendudukinya di depan meja lusuh yang penuh coretan tangan dan gambar wanita yang tak jelas berantakan memanas-manasi kupingku dan fikiranku untuk mencoret-coret lagi meja itu. Tidak! Jangan lagi!. Tapi, apa yang terjadi tanganku ternyata sudah selesai mencoret, habis... bagaimana lagi? Meja itu terlalu seksi dan aku tak tahan lagi dengan godaannya itu. Selamat pagi meja dan bangkuku sudah terlanjur tertulis. Seolah sudah puas meja dan bangkuku diucapkan selamat pagi. Mereka mengusirku untuk pergi dari mereka.
Cermin di sebelah pintu kamar yang memperlihatkanku betapa lecak dan tak bersemangatnya wajahku yang habis bangun dari tidur cukup tidak lelap itu semalam.
Aku berjalan melewati kamar adikku, menuruni tangga dengan sandal tidur kelinci putih bersih. Tanganku membelai kayu pegangan ditangga dengan rasa kasihan karna tak pernah di bersihkan dan berdebu.
Sekarang aku siap! Cerminku kembali memperlihatkan wajah dan seluruh tubuhku yang sudah segar dan bersemangat.
***
Sepatu hitamku tersenyum rupanya melihat teman-temannya yang baru di bersihkan oleh pemiliknya. Akupun memasang wajah tersenyum gembira. Tapi sebenarnya, hatiku sedikit takut menjalani pagi ini, entah kenapa???
***
Inilah rumah keduaku yang aku cintai! Meja dan bangkuku yang terseksi kedua, mereka... mereka kembali menggodaku. Aku sudah bosan sebenarnya dengan rayuan dan godaan gombal macam itu. Tetapi, aku bingung pada diriku sendiri? Mengapa aku selalu meladeninya. Yasudahlah! "Melati dan Aku adalah bunga, bunga itu putri, putri itu adalah Aku, Jasmine" dan aku adalah Putri Jasmine. Aku memandang seluruh ruangan kelas ini aku seperti mayat hidup saja. Yang setiap hari hanya diam tak bersuara dan hanya ada bekas kata-kata yang dituliskan ke meja yang tak jelas yang tak mampu kuucapkan. Kerjaanku hanya begini saja. Tapi ini sangatlah indah dan menenangkan hati.

**

"Putri Jasmine? apakah pangeranmu pangeran Alladin:D ?"

***
Hari terus berotasi. Dengan alis sebelah kiri yang mengangkat dan mata yang melotot. Demi celana Neptunus! Ada yang mengejek namaku! Sial! Beraninya Ia sembarangan membalas tulisan di mejaku. Lihat saja!

"Apakah kau setampan Alladin? Setampan Alladin pun tidak apalagi Pangeran Alladin"....

"Demi raja Neptunus! Merah semerah darah segar!!!!"

**
"Apakah raja Neptunus akan membalas tulisanmu kelak?"

***
"Ya kau! Akan ku laporkan kau dengan semua yang bertinta merah tidak sedikit pun ada tinta hitamnya! Oh Neptune!

"Darah segar itu menjadi hitam"

**
"Baiklah, aku tidak mau di laporkan ke rajamu. Dan aku tidak mau nama baikku jelek! Aku minta maaf Putri Jasmine yang terhormat. Aku serius"

***
"Sebelum bunga melati menjadi merah, aku memberi kesempatan"
...........

***
"I  pretend to look around. But I was actually looking at you"
...........
***
"Nothing to do"
............
**
Sebenarnya, aku sudah lama sekali terpukau dengan tumpahan kata-kata di atas meja ini. Mungkin sekarang saatnya aku berbalik memarahi dan akan kubalas tulisan-tulisan ini dengan huruf kapital semua! Mengapa orang ini tega sekali menularkan virus ciri-ciri pelajar yang kurang baik. Mencoret-coret mejalah, dan apalah yang ingin Ia tulisi. Apakah memang Ia benar-benar tidak mempunyai satu atau dua orang pun teman untuk di jadikannya media tetapi asalkan jangan dijadikannya media tulis. Kenapa ia harus merepotkan orang lain yang duduk disini. Aku sangat terganggu dengan dengan coretannya yang membuat aku hanya fokus pada tulisannya itu. Dan terfokus siapa sebenarnya kau selama ini!!!!????
Sudah seribu bahkan puluhan ribu pertanyaan yang menghantui otakku! Yang ingin menanyakan siapa kau sebenarnya? Wanita? Pria?

"ku mohon... kau ini siapa? Aku ingin melihatmu... Aku tak ingin lagi dan lagi hanya melihat wajahmu dalam bentuk tulisanmu saja. Tak peduli kau wanita atau pria. Tapi, aku tetap berharap kau seorang wanita. Aku menunggumu di taman. Tak masalah kapan pun kau mau...."

***
Tanganku refleks menepuk keningku sendiri dengan tangan kanan. Bekalku tertinggal di kolong meja. Aku berbalik badan 180 derajat, rambut hitam lurusku sedikit berantakan terhembus angin sambil kembali menuju ruang kelasku. Satu per satu anak tangga ku naiki dan ku hentak dengan sepatu pantopel hitamku. Akhirnya rambutku berheni melambai, tapi, tetap saja berantakan! Nafasku terengah naik dan turun. Ku masuki ruangan kelas. Dingin sekali rasanya.
Aku mulai merogoh, merogoh kolong meja. Tak disengaja mataku tertuju pada balasan kalimat itu. Kau tahu? Sebenarnya rasa penasaranku lebih besar darimu. Aku ingin menemuinya, tapi aku merasa takut. hatiku berbicara.

***
Dengan rasa yang sangat curiga, aku melihat wajahnya....
Seluruhnya terasa buyar, hanya ada pria itu dalam mataku. Akankah ia orangnya? Pria itu sekarang yang kelihatannya memperhatikanku. Apakah di fikirannya juga terasa buyar? Hanya ada aku dimatanya????

~~
"Melati dan Aku adalah bunga, bunga itu putri, putri itu adalah Aku, Jasmine"
"Putri Jasmine? apakah pangeranmu pangeran Alladin:D ?"
"Apakah kau setampan Alladin? Setampan Alladin pun tidak apalagi Pangeran Alladin!.... Demi raja Neptunus! Merah semerah darah segar!!!!"
"Apakah raja Neptunus akan membalas tulisanmu kelak?"
"Ya kau! Akan ku laporkan kau dengan semua yang bertinta merah tidak sedikit pun ada tinta hitamnya! Oh Neptune!"
"Baiklah, aku tidak mau di laporkan ke rajamu. Dan aku tidak mau nama baikku jelek! Aku minta maaf Putri Jasmine yang terhormat. Aku serius"
"Sebelum bunga melati menjadi merah, aku memberi kesempatan"
"Aku sudah tau kau akan memaafkan ku. Sebelumnya terima kasih yangmulia"
"I  pretend to look around. But I was actually looking at you"
"It turns out you're a liar"
"Nothing to do"
"Did you feel hopeless?"
"I think so..............."
"Oh my! Never give up!"
.........
.........
.........
.........
.........
.........
"ku mohon... kau ini siapa? Aku ingin melihatmu... Aku tak ingin lagi dan lagi hanya melihat wajahmu dalam bentuk tulisanmu saja. Tak peduli kau wanita atau pria. Tapi, aku tetap berharap kau seorang wanita. Aku menunggumu di taman. Tak masalah kapan pun kau mau...."

Balasan terakhirnya........ Percakapan kami berdua......

**
Kau menemuiku? Mengapa cepat? Bahkan sangat! Kukira... akan lama menunggu kejadian ini....

Aku mencintaimu...


*
Kemampuan berbahasa dan berkata-kata yang indah dan berbobot yang selama ini kumiliki hanya hatiku saja yang memilikinya. Sayang, itu tak bisa kujadikan bahasa sehari-hariku, bahkan seumur hidupku nanti. Bahasa sehari-hariku ialah milik tubuhku. Tubuhku yang berbahasa, tubuhku yang berkata. Maaf, jika aku bukan Dia. Dia yang selama ini kau idamkan.

**
Aku salah selama ini menilaimu, maafka aku, maafkan segalanya tentangku. Sekali lagi Aku mencintaimu.

END...





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar